Reformasi pendidikan kedokteran di Indonesia merupakan isu krusial yang terus didorong oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk menjawab tantangan kesehatan nasional, terutama dalam hal pemerataan dan peningkatan kualitas dokter. IDI memandang bahwa reformasi harus berfokus pada penyelarasan luaran pendidikan dengan kebutuhan riil masyarakat. Tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah kualitas lulusan yang belum merata antar institusi, biaya pendidikan yang sangat mahal, serta kurikulum yang terkadang kurang menekankan pada isu kesehatan masyarakat, pencegahan, dan penanganan di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP).
๐ Peningkatan Mutu Lulusan dan Standarisasi Kurikulum
IDI menuntut peningkatan mutu lulusan melalui standarisasi kurikulum nasional yang ketat dan terpusat, memastikan bahwa semua fakultas kedokteran (FK) memenuhi standar minimal. IDI, melalui Kolegium Kedokteran, berperan aktif dalam:
- Penguatan Fase Profesi: Mengadvokasi peningkatan kualitas dan durasi pendidikan klinis (koas), dengan penekanan pada kemampuan komunikasi, etika, dan penanganan kasus gawat darurat.
- Uji Kompetensi Nasional: Memastikan Uji Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD) berjalan objektif dan adil sebagai satu-satunya penentu kelulusan, sehingga lulusan benar-benar siap berpraktik.
- Integrasi Interprofesi: Mendorong kurikulum yang mengintegrasikan pembelajaran interprofesi, melatih dokter untuk bekerja efektif dalam tim kesehatan.
Reformasi ini bertujuan untuk menghasilkan dokter yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki integritas etika dan keterampilan praktis yang andal.
๐๏ธ Orientasi Pendidikan Berbasis Kebutuhan Daerah
Reformasi pendidikan yang ideal, menurut IDI, harus memiliki orientasi yang kuat pada kebutuhan daerah. IDI mengadvokasi agar fakultas kedokteran mulai menyesuaikan kurikulum dan pengalaman praktik klinik mahasiswa dengan profil penyakit dominan dan kondisi sosial-budaya di wilayah masing-masing. Ini termasuk:
- Wajib Praktik di DTPK: Mendorong residensi wajib atau penempatan jangka panjang di daerah terpencil (DTPK) sebagai bagian dari kurikulum, memberikan pengalaman langsung dalam menghadapi keterbatasan sumber daya.
- Spesialisasi yang Relevan: Mendorong pembukaan program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) yang menghasilkan spesialis yang paling dibutuhkan di daerah, seperti Spesialis Obstetri dan Ginekologi, Anak, dan Penyakit Dalam.
IDI berpendapat bahwa pemerataan dokter tidak akan terwujud tanpa pemerataan kualitas dan relevansi pendidikan.
IDI terus bekerja sama dengan Kemenkes, Kemendikbudristek, dan KKI untuk memastikan bahwa reformasi pendidikan kedokteran berjalan sesuai koridor etika dan profesionalisme. Harapan IDI adalah menciptakan sistem pendidikan yang berkesinambungan (sustainable), efisien dalam biaya, dan dapat diakses secara luas, sehingga setiap anak bangsa yang berpotensi memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi dokter berkualitas. Tujuan akhir dari reformasi ini adalah menghasilkan tenaga dokter yang memiliki Kompetensi Global namun Berjiwa Lokal, siap melayani dan menjadi agen perubahan kesehatan di seluruh pelosok negeri.
